Wildlife PhotographyFotografi Anti Manstream, Taruhan Nyawa

Dunia fotografi memang sangat luas sekali genrenya. Maka dari itu bagi mereka yang mencintai dunia ini memiliki banyak pilihan untuk mengembangkan potensinya. Salah satu genre fotografi yang mungkin pernah di dengar oleh pecinta fotografi adalah Wildlife Photography atau genre di dalam dunia fotografi yang fokus mengabadikan kehidupan satwa liar.

Kebanyakan genre fotografi lainnya banyak beraktivitas di tempat yang ramai atau berinteraksi dengan orang lain. Contohnya seperti fotografer model, fotografer wedding, hingga street fotografer sekalipun.

Mereka memotret pemandangan apa saja termasuk suasana masjid dan karpet masjid. Bisa juga memotret model yang melenggang di atas karpet merah

Akan tetapi, seorang  fotografer satwa liar tentunya justru sangat bertolak belakang dengan keramaian. Kebanyakan mereka diharuskan untuk memasuki hutan baik siang maupun malam hari hanya untuk mendapatkan objek foto yang mereka cari.

Dilansir dari Bangkapos.com, seseorang yang memiliki hobi dan ketertarikan di dunia Wildlife photography pun membagikan tips dan pengalamannya selama menggeluti bidang tersebut.

 Wildlife PhotographyFotografi Anti Manstream, Taruhan Nyawa

Tips Penghobi Wildlife Photography

Menurut Putra, biasa dirinya di panggil, orang-orang perlu memahami bahwa wildlife photography berbeda dengan animal photpgraphy. Sebab selama ini banyak orang menyamakan kedua genre fotografi ini.  Padahal menurut Putra,  animal photography adalah genre yang fokus untuk memotret binatang, termasuk binatang yang berada di kebun binatang.

Adapun wildlife photography adalah seorang jurnalis alam liar dimana foto-foto yang diambil memang foto binatang yang hanya ada di alam liar.

Apabila anda memiliki ketertarikan dan hobi di bidang fotografi yang antimainstream ini, ada beberapa tips yang dberikan langsung oleh pelaku di dunia Wildlife photoghrapy. Apa saja itu? Simak pembahasannya dibawah ini.

  1. Perlengkapan KameraTidak seperti objek foto di fotografi lainnya, object foto dari wildlife photography ini adalah hewan yang pada umumnya sulit untuk didekati. Maka dar itu, Putra yang telah 10 tahun menekuni hobi ini menyarankan bagi para pemula agar wajib memiliki kamera dengan lensa yang panjang atau istilahnya lensa tele.”Kalau mau simple sih bisa pakai mirrorless, karena biasanya sudah ada fitur optical zoomnya, jadi ga perlu tambahan lensa,” ujar Putra.Namun jika masih ingin mendapatkan hasil foto yang lebih baik, sebaiknya menggunakan kamera DSLR, dengan tambahan lensa tele kisaran 500 mm.

    Sedangkan untuk mengatasi masalah pencahayaan, anda harus memiliki kamera yang memiliki ISO di atas 1.000. Hal itu di karenakan kondisi geografis  hutan di Indonesia mayoritas rimbun dan hanya ada sedikit cahaya yang masuk.

  2. Mempelajari kebiasaan objek foto

Sebelum mulai mengambil foto, seorang penghobi wildlife photography sangat di anjurkan untuk mempelajari objeknya, misalkan target objek foto kita adalah burung hantu, maka kita harus pelajari dulu kebiasaan hidup dari burung hantu itu sendiri.

Mempelajari kebiasaan hidup objek goto akan memudahkan seorang fotografer sebab dia tahu waktu dan tempat yang tepat untuk menemui objek tersebut. Sebab tanpa pengetahuan yang jelas, kemungkinan akan sulit menemukan objek yang di cari di tengah alam bebas yang luas.

Namun meski sudah mempelajari dan melakukan survey terlebih dahulu bukan berarti tidak akan ada kesulitan yang di temui di lokasi pemotretan. Sebab bisa jadi butuh waktu yang sangat lama untuk mencari objek foto. Bahkan bisa jadi tak cukup sekali dua kali menyusuri hutan baru bisa menemukannya.

Maka dari itu kuncinya seorang fotografi satwa liar haruslah sabar

  1. Libatkan Masyarakat Lokal

Seperti yang telah di singgung sebelumnya, dunia fotografi alam liar ini memang tergolong cukup ekstrim. Resiko yang dimiliki juga lebih besar. Maka dari itu seorang penghobi fotografi ini harus ekstra hati-hat saat memotret.

Putra pun memberi himbauan bagi orang –orang yang berminat menekuni hobi wildlife photography agar selalu melibatkan masyarakat lokal setiap ingin berburu foto, dikarenakan lokasi dari hobi ini berada masuk ke dalam hutan, yang bukan tidak mungkin terdapat binatang buas di dalam hutan tersebut.

“Saya pernah waktu di Pulau Jawa tepatnya di Gunung Salak, ditemani oleh BKSDA karena disana masih ada macan tutul, jadi harus ada pendampingan orang yang paham dengan hutan tersebut,” jelasnya.

Add Comment